dithaisper.blogspot.com
Mohon Kritik dan Sarannya Untuk Kemajuan Blog Ini
Tampilkan postingan dengan label Bahan Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahan Kuliah. Tampilkan semua postingan

Pemeriksaan Fisik Antenatal

Posted by Dithaisper 0 komentar

Pemeriksaan fisik antenatal merupakan bagian dari pemeriksaan antenatal secara keseluruhan. Pemeriksaan antenatal terdiri dari:

1. Anamnesa ,

Tujuan : Mengumpulkan informasi tentang riwayat kesehatan dan kehamilan

yang meliputi :

§ pencatatan biodata pasien dan keluarga

§ Keluhan saat ini

§ Riwayat Haid

§ Riwayat kehamilan dan persalinan

§ Riwayat kehamilan saat ini

§ Riwayat penyakit dalam keluarga

§ Riwayat penyakit Ibu

§ Riwayat pembedahan

§ Riwayat KB

§ Riwayat imunisasi

§ Riwayat menyusui

§ Laboratorium

§ Hasil CTG

§ dll

2. Pemeriksaan fisik

Tujuan : Menilai kesehatan dan kenyamanan fisik ibu dan bayinya

3. Pemeriksaan penunjang

▪ Laboratorium

▪ Rekam jantung janin ( CTG )


PEMERIKSAAN FISIK ANTENATAL

Pemeriksaan fisik antenatal memberikan data yang amat bernilai sebagai dasar asuhan keperawatan. Pemeriksaan tersebut meliputi inspeksi ( melihat ), auskultasi ( mendengarkan ), dan palpasi ( meraba ) yang dimulaI darI Kepala hingga kaki ( Head to toe )

v Keadaan Umum ( inspeksi head to toe )


§ Tanda-tanda vital ( TD, Nadi, Pernafasan , suhu )

§ Tinggi Badan

§ Berat badan

§ Cara Berjalan

§ Postur tubuh

§ Kondisi Rambut

§ Wajah

§ Telinga

§ Mata

§ Hidung

§ Mulut

§ leher

§ Pemeriksaan Dada

· Bentuk dada

· Jantung

· Paru

· Payudara ( mammae)

¨ Inspeksi :



Ø Bentuk mammae

Ø Hyperpigmentasi areola mammae

Ø Keadan Papilla mammae

Ø Pengeluaran ASI


¨ Palpasi :


Ø Adanya pembengkakan / masa


v Pemeriksaan abdomen


Ø Inspeksi :


§ Bentuk abdomen


§ Parut bekas operasi


§ Tanda-tanda kehamilan ( strie dan linea )


§ Gerakan janin


Ø Palpasi : (Metode Leopold )


§ Leopold I


· Tujuan :

¨ Menentukan tinggi fundus uteri

¨ Menentukan bagian janin yg terdapat dalam fundus


· Cara kerja :


¨ Posisi menghadap pasien

¨ Kedua kaki pasien ditekuk

¨ Gunakan kedua tangan untuk meraba bagian teratas fundus, dan ukur tinggi fundus uteri dengan menggunakan jari dari bagian teratas fundus ke syimpisis pubis, atau dari fundus ke pusat atau dari fundus ke processus xypoideus ( pilih satu arah yang terdekat )


¨ Raba bagian fundus uteri untuk menentukan apa yang terletak pada sebelah atas uterus. Jika teraba keras, bulat dan melenting menandakan kepala janin, sedangkan jika teraba bagian yang lunak, bundar dan tidak melenting manandakan bokong janin



· Leopold II

¨ Tujuan : Mengetahui bagian punggung dan ekstremitas janin


¨ Cara kerja:


Ø Posisi menghadap pasien

Ø Kedua kaki pasien ditekuk

Ø Posisi tangan di kedua sisi perut pasien


Ø Tangan kiri menahan sisi perut pasien sebelah kiri dan tangan kanan meraba dinding perut ibu sebelah kanan. Bagian janin seperti apa yang teraba ?

Ø Sebaliknya tangan kanan yang menahan sisi perut pasien sebelah kanan dan tangan kiri meraba dinding perut pasien sebelah kiri. Bagian janin seperti apa yang teraba ?

Ø Jika teraba bagian yang memanjang dan memapan menandakan bagian punggung janin, sedangkan jika teraba tonjolan-tonjolan kecil yang bisa bergerak, menandakan bagian ekstremitas janin


· Leopold III

Tujuan :

¨ Menentuka bagian terbawah janin ( presentasi )

¨ Mengetahui apakah bagian terbawah janin sudah masuk ke dalam pintu atas panggul ( PAP ) atau belum


Cara Kerja :

¨ Posisi menghadap pasien


¨ Kedua kaki pasien ditekuk


¨ Letakkan satu tangan ( tangan kanan ) diatas sympisis pubis, dan rasakan bagian apa yang terdapat disana / presentasi apa.( Bedakan dengan apa yang teraba di daerah fundus uteri). Jika teraba keras, bulat dan melenting menandakan presentasi kepala , sedangkan jika teraba bagian yang lunak, bundar dan tidak melenting manandakan presentasi bokong (sungsang ).

¨ Raba apakah bagian terbawah janin masih utuh teraba seluruhnya dan masih bias digoyangkan atau tidak. Jika bagian terbawah janin teraba seluruhnya, dan masih bisa digoyangkan menandakan bagian terbawah janin belum masuk PAP. Sebaliknya jika tidak teraba seluruhnya dan tidak bisa digoyangkan menandakan sudah masuk PAP


§ Leopold IV

· Tujuan :

¨ Untuk membuktikan bagian terbawah janin ( kepala / bokong ) sudah atau belum masuk PAP. ( konvergen atau divergen )

¨ Untuk mengetahui sejauh mana bagian terbawah janin masuk PAP

· Cara Kerja :

¨ Posisi berbalik menghadap ke kaki pasien

¨ Kedua kaki pasien diluruskan

¨ Letakkan kedua tangan diatas sympisis pubis pada kedua sisi bagian terbawah janin ( bokong atau kepala janin ) untuk membuktikan kepala atau bokong janin sudah masuk PAP atau belum. Jika ujung jari tangan yang meraba sisi kepala atau bokong janin bisa bertemu/ berbentuk kerucut berarti belum masuk PAP ( konvergen ). Sebaliknya jika posisi tangan terbuka di kedua sisi kepala atau bokong janin / ujung jari tangan tidak bisa bertemu berarti kepala atau bokong janin sudah masuk PAP ( divergen )


KONVERGEN DIVERGEN

¨ Letakkan telapak tangan kanan diatas sympisis pubis sambil meraba bagian terbawah janin ( bokong/kepala). Raba dengan menggunakan jari, berapa jari kepala atau bokong janin yang teraba diatas syimpisis pubis ( tekhnik perlimaan )


Ø 5/5 = kepala/bokong janin bisa teraba dengan 5 jari, menandakan kepala/bokong janin belum masuk PAP

Ø 4/5 = kepala/bokong janin teraba dengan 4 jari

Ø 3/5 = kepala/bokong janin teraba dengan 3 jari

Ø 2/5 = kepala/bokong janin teraba dengan 2 jari

Ø 1/5 = kepala/bokong janin teraba dengan 1 jari

Ø 0/5 = kepala / bokong janin tidak teraba menandakan bagian kepala telah masuk PAP seluruhnya


Ø Mengukur tinggi fundus uteri

§ Tujuan : Mengetahui usia kehamilan


§ Cara Kerja :

· Ukur tinggi fundus dgn menggunakan pita pengukur.

· Mulai dari tepi atas simfisis pubis, rentangkan hingga kepuncak fundus mengikuti aksis atau linea medialis pd abdomen

· Pita pengukur harus menempel pd kulit abdomen

· Catat angka yang terdapat pada pita pengukur di puncak fundus uteri

Ø Auskultasi : Mendengarkan denyut jantung janin

§ Tujuan :

· Mengetahui kesejahteraan janin di dalam kandungan

· Menghitung denyut jantung janin

· Mendeteksi kelainan-kelainan yang terdengar pada DJJ

§ Cara Kerja :

· Gunakan sebuah jam dengan jarum jam detik dan sebuah fetoskop Doppler atau fetoskop pinard

· Tentukan titik tertentu pada dinding abdomen ibu dimana DJJ terdengar paling kuat yaitu pada bagian punggung janin

· Hitung dalam 1 menit frekuensi denyut jantung janin

· Deteksi kelainan- kelainan yang terdengar dari DJJ:
¨ denyut jantung yang irregular

¨ frekuensi denyut jantung yang kurang atau lebih dari normal

MENGGUNAKAN DOPLER MENGGUNAKAN LENEK

v Pemeriksaan Vagina

Ø Kebersihan

Ø Ada / tidaknya pengeluaran cairan pervagianam ( seperti fluor albus, air ketuban, darah, dll)

Ø Ada atau tidaknya kelainan di vagina ( varises, kista bartolina, condiloma akuminata dll )


v Pemeriksaan ekstremitas

Ø Ada atau tidaknya varises

Ø Ada atau tidaknya oedema

Ø Reflek patella

Komunikasi Terapeutik Pada Anak dan Keluarga

Posted by Dithaisper 0 komentar
I.                  Pengertian Komunikasi

Ada beberapa definisi tentang komunikasi :

·         Komunikasi adalah pengiriman pesan atau tukar menukar informasi atau ide / gagasan ( Oxford Dictionary ).

·         Komunikasi adalah suatu proses ketika informasi disampaikan kepada orang lain melalui symbol, tanda, atau tingkah laku ( Haber, 1987 )

·         Komunikasi bisa berbentuk komunikasi verbal, komunikasi nonverbal, dan komunikasi abstrak ( Champbell dan Glasper, 1995 ). 

II.                Prinsip Komunikasi

·         Mempunyai tujuan yang jelas : membantu pasien mencapai kesejahteraan secara mandiri. Maksudnya, dengan komunikasi pasien bisa mengeksplorasi semua perasaannya dengan perawat secara maksimal, sehingga perawat bisa mengetahui permasalahan pasien secara akurat.
·         Merupakan tanggung jawab perawat, sehingga dapat tercipta hubungan saling percaya antara perawat, pasien, dan keluarga.
·         Merupakan elemen penting dalam praktek keperawatan. Melalui komunikasi yang baik, akan tergali data yang optimal, sehingga pengalaman yang positif juga akan terbentuk.
·         Praktek Keperawatan merupakan praktek professional, yang didalamnya ada hubungan antara perawat dan pasien ( keluarga ) yang membina hubungan profesional dengan menggunakan komunikasi terapeutik ( ada tujuan yang jelas ). Sehingga semua tindakan keperawatan perlu komunikasi. Louise K, dan Brenti, ( 1997 ) mengemukakan tentang komunikasi terapeutik sebagai segala bentuk komunikasi yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan pasien atau menghilangkan distres psikologis. Komunikasi terapeutik ditunjukkan dengan empati, rasa percaya, validasi, dan perhatian.
  
III.             Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi

Ada tiga factor utama yang mempengaruhi proses komunikasi yaitu :

a.       Situasi atau suasana

Suasana yang penuh dengan kebisingan akan mempengaruhi baik / tidaknya pesan diterima oleh komunikan, dibandingkan dengan situasi yang tenang atau hening sehingga komunikator dan komunikan dapat saling mengirimkan pesan dengan jelas. Dalam melakukan komunikasi dengan pasien atau keluarga, perawat harus melihat kondisi / keadaan pasien saat itu. Sebaiknya sebelum proses komunikasi dilaksanakan, lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa supaya tenang dan nyaman.

 b.      Waktu yang tepat

Jika waktunya tidak memungkinkan janganlah memaksakan diri untuk melakukan komunikasi karena akan menimbulkan masalah lain yang lebih parah atau bahkan kita akan mendapat marah dari pasien dan keluarga. Sehingga perawat perlu memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada pasien, misalnya sewaktu kita melakukan anamnesa, pada pasien yang mengantuk atau yang lainnya.

c.      Kejelasan pesan
Akan sangat mempengaruhi keefektifan komunikasi. Pesan yang kurang jelas dapat ditafsirkan berbeda oleh komunikan sehingga antara komunikan dan komunikator dapat berbeda persepsi tentang pesan yang disampaikan. Hal ini akan sangat mempengaruhi pencapaian tujuan komunikasi yang dijalankan. Yakinkan apa yang akan dikomunikasikan dan bagaimana mengkomunikasikannya.

Dengan melihat berbagai uraian diatas, sebenarnya efektif tidaknya suatu komunikasi juga akan dipengaruhi oleh komponen – komponen sbb :
a.Sender / pengirim / sumber pesan / komunikator
b.Message / pesan / informasi
c.Receiver / penerima pesan
d.Channel / media yang digunakan
e.Objective / tujuan

Seorang ahli komunikasi ( Laswell ) menganalisa komunikasi dengan
Who say to whom & how.
Who           : Siapa yang mengatakan ( pengirim )
What          : Apa yang dikatakan ( pesan )
To Whom   : Kepada siapa ( penerima )
How           : Bagaimana ( media yang digunakan )

IV.             Komunikasi sesuai Tumbuh Kembang Anak

a.      Berkomunikasi dengan Bayi
·  Belum dapat mengekspresikan perasaan dan pikirannya dengan kata – kata, sehingga bahasa nonverbal sering digunakan
· Mengungkapkan kebutuhan dengan tingkah laku dan bersuara yang dapat diinterpretasikan oleh orang sekitar
· Untuk bayi yang masih muda ( usia < 6 bulan )
ü      Berespon positif terhadap kontak fisik yang lembut
ü      Perilaku menggerak – gerakkan tangan, kaki, menendang yang 
merupakan rangsangan untuk memperoleh perhatian ( misalnya bayi ingin diberi sentuhan, didekap, digendong, diajak komunikasi
dengan lembut ).
· Untuk bayi yang lebih tua ( usia > 6 bulan )
ü      Stranger anxiety atau cemas dengan orang asing yang belum dikenalnya, merupakan ciri perilaku yang sering muncul.
ü      Perhatiannya berpusat pada diri dan ibunya
ü      Perhatikan saat berkomunikasi dengannya
ü      Lakukan komunikasi terlebih dahulu dengan ibunya dan atau mainan yang dipegangnya
ü      Kerjakan dengan lembut
ü      Tanpa gerak isyarat
ü      Bayi dalam pengawasan orang tua
ü      Berikan obyek yang aman

b.     Berkomunikasi dengan Anak Balita
     ( Batita/usia bermain/toddler & Prasekolah )
ü      Komunikasi verbal belum efektif, karena memang belum fasih dalam berbicara.
ü      Gunakan kata – kata simple, singkat, yang dikenal oleh anak karena anak hanya dapat menerima informasi secara harfiah.
ü      Beri pujian untuk hal – hal yang dicapai
ü      Sangat egosentris. Hanya melihat sesuatu berpusat pada dirinya ( komunikasi berpusat pada dirinya ).
ü      Sering berperilaku mendorong tangan pemeriksa dan menangis pada saat pemeriksa mendekatinya.
ü      Anak belum mampu memahami abstraksi, maka gunakanlah istilah – istilah yang pendek dan konkrit
ü      Kenalkan alat –alat yang akan digunakan, termasuk juga dengan cara kerjanya. Akan tetapi untuk memegangkan alat kepada anak perlu diperhatikan lingkungan dan kondisi anak. ( Kalau perlu alat diperkenalkan saja, karena kalau memegang langsung, kemungkinan alat akan dibanting oleh anak. Maka perlu diwaspadai kemungkinan tersebut, hal ini lebih spesifik ke anak usia toddler ).
ü      Gunakan obyek yang menyenangkan
ü      Lakukan kontrak waktu dengan pasien dan keluarga, kapan tindakan akan dilaksanakan
ü      Beri kesempatan untuk memegang alat khususnya untuk anak prasekolah ( dengan melihat keadaan anak, sampai bagaimana alat tersebut akan digunakan ).
ü      Beri kesempatan untuk bertanya

c.      Berkomunikasi dengan Anak Usia Sekolah
Ø      Anak Usia 5 – 8 tahun
·        Bila menemui masalah hanya percaya terhadap apa yang mereka lihat dan yang mereka ketahui tanpa memerlukan penjelasan secara mendalam.
·        Anak tertarik pada aspek fungsional dari semua prosedur, objek dan aktivitas, mengapa, bagaimana, untuk apa prosedur tersebut dilakukan.
·        Melihat hal tersebut, perlu menjelaskan setiap  prosedur yang akan dilakukan.
·        Kalau perlu dengan alat yang ada peragakan cara penggunaannya, serta sebutkan fungsi peralatan yang ada.
·        Anak usia tersebut, sangat memperhatikan keutuhan tubuhnya, oleh karena itu mereka peka terhadap sesuatu yang mengancam atau menyakitkan tubuhnya, sehingga beri pendekatan yang positif.  
Ø      Anak Usia 8 – 12 tahun
·        Anak sudah mampu berfikir secara konkrit, sehingga komunikasi lebih mudah dilakukan, misalnya dengan memberi contoh melakukan injeksi pada boneka.
·        Hubungan dengan petugas biasanya terjalin baik, sehingga pengalaman masa lalu bisa diandalkan
·        Berdekatan dengan perawat akan lebih tenang karena sudah mengenal dengan baik.

d.      Berkomunikasi dengan Anak Usia Remaja
e.      Berkomunikasi dengan Orang Tua
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda